KitaSukaIndonesia, JAKARTA-Mendengar kata kemenyan, sebagian orang langsung berpikir akan wewangian yang digunakan ritual masyarakat di beberapa daerah. Termasuk kapur barus yang dianggap sebagai penghilau bau untuk lemari, keduanya bisa diolah jadi parfum bernilai jual mahal.
Kapur barus dan kemenyan adalah salah satu bahan mentah minyak atsiri, yang ditangan Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru diolah menjadi parfum.
BRIN kini berhasil mengubah persepsi tersebut dengan menciptakan produk turunan bernilai tinggi. Mulai dari parfum yang bernilai mewah di kancah dunia hingga serum kecantikan berbasis tanaman asli Nusantara.
Peneliti PRBT BRIN, Aswandi, menjelaskan kemenyan negeri kita memiliki potensi ekonomi yang luar biasa jika diolah dengan teknologi yang tepat.
Selama ini, kemenyan Indonesia diekspor sampai 5 hingga 8 ton kemenyan mentah per tahun. Nilainya mencapai triliunan rupiah.
Di luar negeri kemenyan diolah untuk bahan parfum. Kalau di Indonesia, harganya murah. Tetapi untuk menjadi sebotol parfum, harganya cukup mahal.
“Styrax Parfumes atau parfum kemenyan ini kalau dibeli di Paris harganya minimal sekitar 5 juta rupiah. Padahal, dengan modal sekitar 200 ribu rupiah (bahan baku), kita bisa menghasilkan produk bernilai jutaan rupiah,” jelas Aswandi, dilansir dari laman BRIN, seperti dilansir kompas.id.
Aswandi menjelaskan bagaimana tanaman yang sering dianggap mistis seperti kemenyan dan kapur barus (kamper), diburu industri kosmetik dunia, terutama dari Prancis dan Eropa. “Jadi sebetulnya kami punya banyak mitra. Bahkan sudah berjalan. Ada juga yang akan datang ke Indonesia, yaitu dari perusahaan-perusahaan Prancis, dan juga Eropa yang akan mencoba untuk bagaimana menggunakan produk-produk ini,” ujar Aswandi.
Ia memberikan perbandingan bahwa parfum berbasis kemenyan di Paris bisa dijual minimal Rp 5 juta, sementara bahan bakunya bisa diperoleh dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Berdasarkan data riset, parfum kemenyan hasil inovasi BRIN (Paten No. S00202314472) mengandung senyawa kompleks seperti Bornyl acetate yang memberikan aroma pedas dan kayu, serta Linalool yang memberikan sentuhan aroma bunga dan jeruk yang manis.
“Kami menciptakan signature perfume konsentrasi tinggi yang tidak hanya bertahan lama, tetapi juga memiliki khasiat aromaterapi,” tambahnya.
Ada parfum kapur barus dan cengkeh. Selain kemenyan, riset difokuskan pada pohon Kapur (Kafura). Aswandi mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa pada masa lalu, satu gram kapur barus alami harganya setara dengan satu gram emas. Hingga saat ini, nilai ekonominya tetap tinggi.
“Tapi kapur barus yang kita gunakan di rumah kita bukan yang itu saya maksud. Melainkan dari tanaman yang selama ini identik dengan peradaban Islam di Indonesia. Sebetulnya, bahan-bahan ini sangat Indonesia banget, gitu. Tidak ada di tempat lain,” tutur Aswandi.
Inovasi bertajuk “Kafura Perfumes” memanfaatkan resin dari pohon Dryobalanops aromatica. Aroma kapur barus yang segar dan dingin (mentol) dikombinasikan dengan rempah nusantara lainnya untuk menciptakan produk yang sangat diminati pasar Timur Tengah dan Eropa.
“Permintaan industri dari Paris mencapai 200 ribu ton per tahun. Namun, kita sering terkendala ketersediaan karena kerusakan hutan. Karena itu, kami juga fokus pada konservasi populasi pohon kapur di Sumatera Utara,” tegas Aswandi.
BRIN tengah berupaya melakukan konservasi populasi pohon kapur terbesar yang baru ditemukan di Sumatera Utara agar bahan baku ini bisa dikelola secara berkelanjutan tanpa merusak hutan.
Kekayaan atsiri Indonesia tidak berhenti di kemenyan dan kapur. Aswandi juga memperkenalkan “Parfum Clowee”, sebuah produk berbasis cengkeh yang sangat merepresentasikan kekayaan alam Nusantara. Menariknya, riset BRIN menemukan bahwa aroma cengkeh Indonesia tidaklah seragam.
“Meskipun Maluku dikenal sebagai pusatnya, setiap daerah di Indonesia memiliki karakter aroma cengkeh yang berbeda-beda, karena masing-masing dari kandungan senyawa cengkeh itu sendiri. Kami sudah mencoba di Maluku, Manado, dan Sumatera, semuanya berbeda,” jelasnya.
Aswandi menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih sering menggunakan pewangi ruangan berbahan sintetik di berbagai tempat. Padahal ada risiko kesehatan yang mengintai di baliknya.
“Seringkali kalau kita masuk ke sebuah ruangan, aroma wangi yang tercium itu berasal dari bahan kimia atau sintetik. Kalau dihirup dalam jangka panjang, ini sebenarnya berisiko bagi kesehatan kita,” jelas Aswandi.
Menurutnya, penggunaan pewangi dari senyawa alami yang dihasilkan PRBT BRIN jauh lebih aman, karena tidak meninggalkan residu berbahaya di dalam tubuh. Selain lebih sehat, inovasi pewangi ruangan alami ini menjadi solusi nyata untuk meningkatkan nilai jual komoditas lokal. Tak hanya inovasi pewangi, BRIN juga mengembangkan produk perawatan kulit (skincare) menggunakan teknologi nano-emulsi.
Produk ini meliputi serum dan krim wajah yang memanfaatkan kekuatan minyak kemenyan dan nilam. “Nah, produksi dari minyak kemenyan, juga kita coba bikin semacam krim, dibikin emulsi. Produknya hampir sama dengan serum, dengan tujuan bagaimana bisa memperbaiki struktur kulit agar lebih terhidrasi dan glowing,” terang Aswandi.
Kepala Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Muhammad Imam Surya, menegaskan kualitas bahan alam asli Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan bahan sintetis impor.
Ia mengajak masyarakat dan industri untuk bangga menggunakan produk lokal. “Kita tidak perlu terlalu bangga dengan parfum dari Paris atau Italia. Produk asli kita ternyata jauh lebih oke dan terbukti pihak luar pun sangat berminat dengan produk kita,” kata Imam.
Saat ini, sekitar 80 persen bahan baku kosmetik di Indonesia masih diimpor. Ironisnya, bahan mentahnya seringkali berasal dari Indonesia yang diekspor murah, lalu dibeli kembali oleh masyarakat dalam bentuk produk jadi yang mahal.*
