KitaSukaIndonesia, SOLO-Gelaran Festival Payung Indonesia (FESPIN) ke-13 resmi dibuka Jumat, 4 September 2026, di Taman Balekambang Surakarta, Jawa Tengah.
Festival yang mengusung tema “Catra Padi” sebagai wujud apresiasi terhadap tradisi pertanian Nusantara tersebut menampilkan 5.000 payung tradisi dan kreasi dengan melibatkan 3.000 seniman serta artisan dari 150 grup seni di Indonesia, serta delegasi dari Thailand, Jepang, Korea Selatan, India, dan Pakistan.
Direktur Festival Payung Indonesia, Heru Mataya, menjelaskan gelaran tahun ini diikuti oleh peserta dari hampir 40 kota di Indonesia serta delegasi dari lima negara luar negeri.
Kehadiran para seniman dan komunitas tersebut semakin memperkuat jejaring kebudayaan berbasis pelestarian karya tradisi.
Selain menyajikan ratusan pertunjukan, FESPIN 2026 juga menampilkan pameran lebih dari 5.000 payung tradisi dan kreasi, stan kerajinan rajut, perca, hingga sulam.
Festival ini turut menghadirkan pameran lukisan internasional karya anak dan remaja dari Korea Selatan, India, Polandia, Mongolia, dan Indonesia yang mengangkat tema penghormatan kepada Ibu Bumi.
“Harapannya Festival Payung Indonesia menjadi perhelatan yang berdampak secara ekonomi kreatif dan punya manfaat bagi pelestarian payung tradisi agar desa-desa payung di Indonesia terus tumbuh dan menjadi ikon pusaka bangsa,” kata Heru.
Sisi literasi juga menjadi bagian penting dalam FESPIN 2026 melalui peluncuran buku “Catra Padi” yang ditulis oleh 48 penulis Indonesia.
Karya literasi ini mendiskusikan sejarah, filosofi, hingga mitologi keberagaman sosok Dewi Sri dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Melalui keterlibatan puluhan UMKM dan sistem kurasi yang ketat, festival ini diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian daerah setempat.
Masyarakat dan wisatawan diimbau untuk hadir mengapresiasi langsung karya seni sekaligus mengikuti ragam lokakarya interaktif selama tiga hari pelaksanaan acara. *
