KitaSukaIndonesia, GALELA-Potret Tanjung Bongo, salah satu destinasi wisata unggulan di Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Oleh banyak wisatawan, destinasi ini sering disebut sebagai miniatur Raja Ampat.
Destinasi wisata unggulan di utara Halmahera ini berada di pusat Kota Galela, tepatnya di Desa Pune, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara. Akses yang mudah membuat perjalanan terasa singkat dan tak melelahkan.
Namun begitu tiba, suasana seakan membawa siapa pun keluar dari rutinitas. Sunyi yang ramah, debur ombak yang pelan, serta bentang alam yang nyaris tak tersentuh membuat Tanjung Bongo kerap dijuluki wisatawan sebagai “Raja Ampat mini”.
Sejak viral sekitar tahun 2018, Tanjung Bongo menjelma magnet wisata baru. Magnet yang menarik pelancong lokal hingga mancanegara.
Untuk sampai ke gugusan pulau-pulaunya, pengunjung harus menyeberang sekitar lima menit menggunakan perahu fiber yang oleh warga setempat disebut taksi Tanjung Bongo. Dengan tarif Rp20.000 per orang pulang-pergi, perjalanan singkat itu menjadi bagian dari pengalaman wisata bahari yang sederhana.
Secara visual, Tanjung Bongo memang memanjakan mata. Bebatuan vulkanik yang ikonik, pulau-pulau karang yang eksotis, serta gradasi warna laut menjadi latar favorit berswafoto.
Di bawah permukaan air, terumbu karang dan ikan warna-warni berenang bebas, menjanjikan pengalaman snorkeling dan diving yang tak terlupakan.
Namun, di balik keindahan itu, tersimpan cerita yang membuat hati sedikit tercekat. Fasilitas dasar yang dulu menjadi penopang utama wisata kini tampak renta.
Suci, salah seorang pengunjung, mengenang masa ketika Tanjung Bongo berada di puncak kejayaannya. “Dulu tempat ini ramai dan sangat bagus,”
“Jembatan kayu itu jadi spot foto favorit. Sekarang sudah rusak, tidak bisa dilewati lagi,” ucap Suci.
Sepinya pengunjung membawa dampak langsung bagi warga pesisir yang menggantungkan hidup dari pariwisata. Salah satunya In, pemilik taksi Tanjung Bongo, nada suaranya berubah pelan saat mengenang masa lalu.
Saat Tanjung Bongo viral, jumlah perahu taksi mencapai sekitar 40 unit. Kini, yang tersisa hanya tujuh.
Sebagian terpaksa dijual karena pengunjung kian berkurang. Padahal, selain mengantar wisatawan, In juga menggantungkan hidup sebagai nelayan.
“Setiap hari masih ada wisatawan, bahkan dari luar negeri. Tapi tidak seramai dulu,” katanya.
Ia menjelaskan, fasilitas dasar Tanjung Bongo awalnya dibangun oleh pemerintah daerah. Namun setelah rusak, perawatan tak lagi berlanjut.
Warga sempat memperbaiki jembatan secara swadaya, dengan peralatan seadanya. Sayangnya, usia bangunan dan intensitas penggunaan membuat upaya itu tak bertahan lama.
Kini, harapan kembali disematkan pada perhatian pemerintah.
Harapan serupa juga disampaikan Kepala Desa Pune, Kecamatan Galela, Said Toboleu. Ia mengakui, operasional objek wisata Tanjung Bongo berada di bawah tanggung jawab pemerintah desa.
Dalam musyawarah bersama warga, rencana pembangunan fasilitas permanen berbahan beton terus dibahas. Meski belum sepenuhnya menemui kata sepakat.
“Pengembangan fasilitas dasar Tanjung Bongo menjadi prioritas kami di tahun 2026 dan akan dikelola secara profesional,” ujar Said optimistis. “Insyaallah, jika terealisasi, ekonomi masyarakat bisa kembali menggeliat.”
Tanjung Bongo sejatinya tak pernah kehilangan keindahannya. Lautnya tetap jernih, gugusan karangnya masih memesona, dan keramahan warga pesisir tak pernah pudar.
Yang kini dibutuhkan hanyalah sentuhan kepedulian, agar Tanjung Bongo tak sekadar menjadi kenangan indah masa lalu. Melainkan kembali menjadi ruang hidup dan harapan bagi masyarakat Galela. *
