KitaSukaIndonesia, JEMBRANA-Kakao Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global. Sebagai salah satu komoditas perkebunan andalan ekspor, nilai ekspor kakao Indonesia mencapai 2,65 miliar dolar Amerika Serikat. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, masih banyak petani yang menjual biji kakao tanpa melalui proses fermentasi sehingga nilai jualnya relatif rendah.
Salah satu daerah yang berhasil menunjukkan kualitas kakao fermentasi adalah Kabupaten Jembrana, Bali. Kakao fermentasi asal Jembrana bahkan berhasil meraih Cacao of Excellence Silver Award 2023 di Amsterdam.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kakao Indonesia mampu memenuhi standar kualitas internasional dan memiliki daya saing di pasar dunia.
Di tengah tantangan penurunan produktivitas akibat tanaman yang menua dan menurunnya kesuburan lahan, regenerasi petani menjadi salah satu kunci keberlanjutan industri kakao. Di Jembrana, semangat tersebut terlihat dari keterlibatan generasi muda yang mulai meneruskan usaha perkebunan keluarga.
Para petani juga menerapkan konsep pertanian berkelanjutan melalui sistem zero waste. Kulit buah kakao dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sementara kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik untuk kebun.
Dikutip dari kompas.com, Pemerintah Kabupaten Jembrana terus mendorong pengembangan komoditas ini melalui program peremajaan tanaman dan perluasan lahan menggunakan klon unggul seluas 4.150 hektare.
Upaya tersebut dipadukan dengan pengembangan sektor pariwisata melalui paket agrowisata “3B” yang diharapkan mampu menarik minat wisatawan untuk mengenal lebih dekat perkebunan kakao Jembrana.
Regulasi tersebut memperkuat pengembangan sektor hulu hingga hilir, sekaligus mendukung peningkatan nilai tambah bagi petani. Keunikan cita rasa kakao Jembrana pun kini semakin mendapat pengakuan dari pelaku industri cokelat artisan di dalam negeri.
Keberhasilan kakao fermentasi Jembrana menunjukkan bahwa peningkatan kualitas melalui fermentasi, dukungan koperasi, regenerasi petani, serta kebijakan pemerintah dapat menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia di pasar internasional sekaligus memperkuat kesejahteraan petani. *
