KitaSukaIndonesia, LOMBOK-Menjelang siang, ketika matahari mulai meninggi, Gili Trawangan di Lombok, Nusa Tenggara Barat tetap berjalan dengan ritmenya sendiri. Jalan utama pulau itu dipenuhi wisatawan mancanegara.
Ada yang baru keluar dari penginapan, ada yang berjalan menuju pantai, sementara sebagian lainnya mulai mencari tempat makan setelah menghabiskan pagi di laut.
Di antara lalu-lalang itu, sepeda menjadi bagian dari keseharian pulau.
Wisatawan mengayuh tanpa tergesa-gesa.
Di Gili Trawangan, sepeda bukan sekadar alat transportasi. Dengan kendaraan sederhana itu, wisatawan dapat menyusuri pulau dengan kecepatan yang memungkinkan mereka berhenti kapan saja, melihat-lihat sekitar, atau sekadar membiarkan kayuhan menentukan ke mana perjalanan berikutnya akan membawa mereka.
Sesekali, cidomo melintas membawa penumpang. Di antara suara percakapan dan aktivitas wisatawan, sepeda motor listrik bergerak nyaris tanpa suara.
Dari celah bangunan dan pepohonan, laut biru muncul, seolah mengingatkan bahwa pulau ini tidak pernah benar-benar jauh dari air.Kehidupan di tepi pantai pun berlangsung dengan tenang.
Berbagai bahasa terdengar bersahutan. Seperti dilansir bloombergtechnoz.com,
hahasa Inggris bercampur dengan bahasa-bahasa dari Eropa dan Asia. Orang-orang datang dari tempat yang berbeda, tetapi di Gili Trawangan mereka seolah mengikuti aturan yang sama sambil menikmati waktu tanpa perlu terburu-buru.
Di bawah permukaan laut, snorkeling dan menyelam menjadi alasan banyak wisatawan datang. Ketika malam tiba, suasananya berubah lagi. Tempat-tempat hiburan mulai ramai, dan Gili Trawangan menunjukkan wajah lain yang tidak terlihat pada siang hari.
