KitaSukaIndonesia, YOGYAKARTA – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama industri kakao dan cokelat dunia. Selain didukung meningkatnya kinerja ekspor dan potensi pasar premium, terbukanya akses melalui sejumlah perjanjian perdagangan internasional dinilai menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia.
Budi memastikan, pemerintah terus mendorong pembukaan akses pasar melalui perjanjian perdagangan dengan berbagai negara. Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian dagang, sementara dua perjanjian lainnya dalam proses ratifikasi dan 11 perjanjian masih dalam tahap negosiasi.
Perjanjian dagang tersebut diperlukan untuk menghilangkan hambatan tarif maupun non-tarif sehingga produk Indonesia lebih mudah masuk ke pasar global.
“Kalau kita mempunyai perjanjian dagang, berarti kita akan lebih mudah masuk atau mengakses pasar di luar negeri,” kata Budi saat menjadi pembicara kunci dalam The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) 2026 di Yogyakarta, Juli 2026 lalu.
Ia mencontohkan, produk cokelat menjadi salah satu komoditas yang mendapatkan peluang akses lebih besar ke pasar Amerika Serikat melalui perjanjian perdagangan yang tengah dibangun. Budi menyebut Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Nilai ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai 30,9 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor Indonesia.
Selain Amerika Serikat, peluang besar juga terbuka di pasar Uni Eropa. Budi mengatakan, Indonesia dan Uni Eropa telah menyelesaikan substansi perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan ditargetkan menandatangani perjanjian tersebut pada September 2026.
“Jadi nanti pada September dilakukan penandatanganan. Mudah-mudahan pada Januari sudah bisa kita implementasikan. Karena tahun depan sudah tidak ada lagi GSP, Pak. Jadi, kita sudah sepakat bahwa tahun depan perjanjian ini harus diselesaikan,” ungkapnya.
“Nah, itu merupakan salah satu pasar yang besar bagi kita, termasuk untuk produk cokelat kita. Cokelat juga mendapatkan keistimewaan untuk masuk ke pasar Uni Eropa,” kata dia.
Menurutnya, pasar Uni Eropa menjadi salah satu tujuan penting bagi produk kakao dan cokelat Indonesia. Produk kakao dan cokelat juga termasuk komoditas yang akan mendapatkan akses lebih baik melalui perjanjian tersebut. Bahkan, produk dalam kode HS 18, mulai dari produk kakao setengah jadi hingga produk jadi, akan mendapatkan perlakuan tarif yang semakin kompetitif dan ditargetkan mencapai nol persen pada 2031.
Selain itu, Pemerintah juga terus mendorong negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat melalui Indonesia-United States Agreement on Reciprocal Trade. Budi optimistis kedua perjanjian tersebut dapat semakin membuka akses pasar dan meningkatkan daya saing produk kakao Indonesia. Untuk mendukung peningkatan ekspor, Kementerian Perdagangan juga mengerahkan 46 perwakilan perdagangan RI di 33 negara. Perwakilan tersebut bertugas mempromosikan produk Indonesia, mengidentifikasi peluang pasar, serta memfasilitasi penjajakan bisnis antara eksportir Indonesia dan calon pembeli dari luar negeri.
“Jangan sungkan-sungkan menghubungi kami dan perwakilan kami di luar negeri,” ujar Budi.
Meski begitu, ia mengingatkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci untuk mendorong masa depan industri kakao Indonesia. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat ekosistem kakao sekaligus meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok kakao dan cokelat global.
Adapun kolaborasi ini perlu melibatkan pemerintah, petani kakao, pelaku usaha, institusi finansial, akademisi, hingga mitra internasional. Dengan sinergi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kakao sekaligus memperkuat daya saingnya di pasar global.
“Kakao terus mendukung kelangsungan hidup ratusan ribu keluarga petani, menciptakan lapangan kerja melalui rantai nilai, dan memperkuat ekonomi perdesaan. Sebagai produk ekspor strategis Indonesia dengan potensi nilai tambah signifikan, masa depan kakao bergantung pada kolaborasi para pemangku kepentingan. Visi Indonesia jelas, yaitu menjadi hub global bagi produk kakao dan coklat premium yang berkelanjutan dan bernilai tambah,” katanya.
Ekspor Kakao Indonesia
Lebih lanjut, Budi menyebut kinerja ekspor kakao Indonesia dalam lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif. Nilai ekspor kakao Indonesia pada 2025 mencapai USD3,60 miliar, meningkat tiga kali lipat dibandingkan 2021 yang tercatat sebesar USD1,2 miliar.
Capaian tersebut menunjukkan kuatnya permintaan global terhadap komoditas kakao, termasuk produk asal Indonesia. Terlebih, Indonesia telah diakui International Cocoa Organization (ICCO) sebagai salah satu penghasil kakao premium atau fine flavour cocoa.
Potensi tersebut dinilai dapat semakin dikembangkan untuk memperkuat posisi Indonesia di segmen kakao premium dunia. Namun, Budi menekankan pengembangan industri kakao harus diiringi inovasi, pemanfaatan indikasi geografis, serta penerapan produksi yang berkelanjutan.
“Oleh karena itu, strategi ekspor Indonesia harus terus fokus pada peningkatan nilai tambah, pemenuhan standar internasional, diversifikasi pasar ekspor, dan maksimalisasi pemanfaatan perjanjian perdagangan internasional yang dimiliki Indonesia,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Vice President & Managing Director Cargill untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menilai sektor kakao Indonesia memiliki prospek yang cerah. Namun, peluang tersebut akan sangat bergantung pada kolaborasi antar pemangku kepentingan dan inovasi yang dilakukan.
Menurutnya, konsumen kini semakin tertarik pada produk yang memiliki keaslian, bersumber dari produksi lokal, menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan, serta menawarkan tekstur dan cita rasa baru. Perubahan tren tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai pusat pengolahan dan inovasi kakao bagi Asia hingga dunia.
“Tren ini semakin memberi Indonesia peluang untuk memperkuat perannya menjadi hub pengolahan dan inovasi bagi Asia hingga dunia,” katanya seperti disadur dari republika.co.id.
Direktur Eksekutif International Cocoa Organization (ICCO) Michel Arrion juga menilai konferensi kakao menjadi momentum penting untuk melihat perkembangan industri kakao Indonesia.
Menurutnya, Indonesia telah berkembang dari negara produsen menjadi salah satu negara yang mampu mengolah biji kakao dan menghasilkan nilai tambah bagi industri cokelat.
“Indonesia memberikan banyak nilai tambah terhadap biji kakao untuk kepentingan industri cokelat. Kami yakin Indonesia akan semakin memperoleh banyak manfaat jika semakin meningkatkan produksi biji kakaonya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), Jeffrey Haribowo, mengatakan terbukanya akses pasar melalui perjanjian dagang akan memperluas peluang ekspor kakao Indonesia.
Terlebih, sekitar 90 persen produk olahan kakao Indonesia saat ini telah diekspor ke pasar internasional.
“Jadi dengan adanya trade agreement itu tentunya akan memperluas peluang kakao Indonesia untuk masuk ke pasar luar negeri,” ujar Jeffrey.
Menurut dia, peluang pasar kakao Indonesia tidak hanya terbuka di Eropa. Saat ini, Amerika Serikat, China, dan India menjadi tiga negara utama tujuan ekspor kakao Indonesia. Amerika Serikat, khususnya, memiliki kebutuhan besar terhadap lemak kakao dari Indonesia.
Namun, peluang ekspor tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan bahan baku domestik. Jeffrey menyebut, tren ekspor kakao Indonesia terus meningkat, tetapi industri masih mengimpor sekitar 200 ribu ton kakao untuk memenuhi kebutuhan produksi, dengan jumlah produksi domestik yang berada di kisaran yang sama.
Karena itu, penguatan sektor hulu menjadi kunci agar peningkatan ekspor dapat memberikan manfaat lebih besar bagi perekonomian nasional dan petani kakao. Menurut Jeffrey, Indonesia tidak perlu membuka lahan baru untuk meningkatkan produksi, melainkan mengoptimalkan lahan yang sudah ada.
“Yang perlu kita lakukan adalah intensifikasi. Lahan yang sudah ada 1,2 juta hektar, itu harus kita optimalkan. Bagaimana kita membantu petani untuk meningkatkan produktivitas mereka,” ujarnya.
Jeffrey juga mengatakan, potensi pengembangan kakao juga tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Selain Sulawesi dan Sumatera yang saat ini menjadi sentra produksi utama, pengembangan kakao juga berpeluang dilakukan di Jawa, Bali, hingga Papua.
“Pada dasarnya seluruh daerah Indonesia cocok, namun memang saat ini penghasil kakao utama adalah di Sulawesi dan Sumatra,” katanya. *





