KitaSukaIndonesia, NAMLEA-Pulau Buru oleh penduduk setempat dijuluki Bupolo. Sejak pagi, asap tipis mengepul dari tungku-tungku tradisional di dusun-dusun, menandai dimulainya proses penyulingan minyak kayu putih, tradisi yang telah hidup berabad-abad di tanah Maluku.
Bagi masyarakat Buru, minyak atsiri beraroma hangat ini bukan sekadar ramuan obat, melainkan bagian dari warisan budaya dan sumber penghidupan utama.
Keterampilan menyuling daun Melaleuca Cajuputi diwariskan lintas generasi sejak masa pertemuan dengan saudagar-saudagar Nusantara dan Eropa pada abad ke-16.
Hingga kini, ketel besi besar masih digunakan untuk merebus daun-daun aromatik selama berjam-jam dengan kesabaran luar biasa, menghasilkan tetes-tetes minyak bening yang menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Buru.
Tak berlebihan jika pulau ini disebut “Negeri minyak kayu putih,” sejajar dengan ikon rempah Maluku seperti pala dan cengkih
Salah satu daerah penghasil kayu putih terbaik di Indonesia adalah Pulau Buru.
Menurut pengusaha muda Figi Ode Marhum, kayu putih bahkan selalu menjadi incaran wisatawan untuk membawa oleh-oleh khas Pulau Buru.
“Dan juga pohon kayu putih sendiri sudah menjadi identitas bagi masyarakat di Kabupaten Buru, karena pohon kayu putih ini tidak banyak dijumpai di pulau lain di Indonesia,” kata mantan Ketua Hipmi Pulau Buru itu.
Kualitas kayu putih yang dinilai lebih baik di Pulau Buru juga menjadikan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sana untuk mencari atau berburu kayu putih.
Figi mengatakan, bahwa beberapa daerah di Indonesia juga memiliki kayu putih, namun wisatawan lebih memilih datang langsung ke Pulau Buru untuk melihat langsung proses pembuatannya, hingga membelinya sebagai oleh-oleh.
“Di Pulau Seram itu kan ada pohon kayu putih juga, tetapi kualitas atau minyaknya itu lebih baik yang ada di Pulau Buru. Jadi makanya kayu putih selalu dijadikan oleh-oleh atau ciri khas ketika orang datang ke Pulau Buru. Istilahnya mending datang langsung dan bawa salah satu ciri khasnya,” jelasnya
Dan untuk Pulau Buru sendiri—yang merupakan penghasil kayu putih terbaik di Indonesia— adalah potensi pariwisata.
Kualitas kayu putih yang dinilai lebih baik di Pulau Buru juga menjadikan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke sana untuk mencari atau berburu kayu putih.
Meski begitu, tidak semua wilayah di Pulau Buru menghasilkan minyak kayu putih.
Salah satu pusat minyak kayu putih adalah Kota Namlea yang juga adalah ibukota Kabupate Buru.
Nah, bagi kalian yang ingin mendapatkan minyak kayu putih langsung dari tempatnya, bisa dengan mengecek jadwal kapal Pelni rute Baubau-Namlea. Atau lewat jasa penerbangan pesawat perintis.
Hanya saja, minyak kayu putih yang selama ini menjadi ikon Pulau Buru, khususnya Kabupaten Buru, mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan ini disebabkan oleh menyusutnya luas lahan tanaman kayu putih akibat alih fungsi lahan dan kebakaran hutan yang kerap terjadi.
Akibatnya, banyak pohon kayu putih yang mati dan produktivitas menurun drastis.
Menyikapi kondisi tersebut, Bupati Buru, Ikram Umasugi angkat bicara. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan tanaman khas tersebut.
“Terkait masalah ini, dari tahun ke tahun terjadi penurunan luasan lahan, kebakaran, serta alih fungsi menjadi perumahan dan kegiatan lainnya,” ujar Umasugi.
Penurunan ini disebabkan oleh menyusutnya luas lahan tanaman kayu putih akibat alih fungsi lahan dan kebakaran hutan yang kerap terjadi.
Akibatnya, banyak pohon kayu putih yang mati dan produktivitas menurun drastis.
Ia menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan tanaman khas tersebut.
“Terkait masalah ini, dari tahun ke tahun terjadi penurunan luasan lahan, kebakaran, serta alih fungsi menjadi perumahan dan kegiatan lainnya,” ujar Umasugi.
Menurutnya, sudah bertemu dengan Menteri Kehutanan guna membahas upaya pembudidayaan kembali pohon kayu putih melalui penyediaan bibit dan perluasan lahan tanam.
“Saya sudah bertemu langsung dengan Menteri Kehutanan, dan kita sedang dorong pembudidayaan anakan kayu putih agar luasannya bisa kembali seperti dulu,” jelasnya.
Menurut Umasugi, pelestarian minyak kayu putih bukan hanya soal ekonomi, tapi juga bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakat Buru.
“Minyak kayu putih bukan hanya soal produksi dan uang. Ini bagian dari identitas kita di Buru. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya dengar cerita bahwa dulu di sini banyak minyak kayu putih,” tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Buru, lanjut dia, juga akan bekerja sama dengan kelompok tani dan masyarakat adat untuk melakukan reboisasi secara bertahap di kawasan hutan produksi yang selama ini terbengkalai.
“Kita tidak bisa kerja sendiri. Butuh keterlibatan semua pihak, terutama masyarakat adat yang selama ini sudah punya kearifan lokal dalam merawat hutan,” pungkasnya. *
